|
|
 |
| Friday, December 30, 2005 |
 |
|
"membuka mata hati"; mungkin memang itu lah jawabnya...
 Sudah hampir dua bulan belakangan ini kerap kali saya diliputi emosi yang cukup mendalam. Sebuah hal yang sepele saja dengan mudah mampu memacu rasa amarah saya. Hanya karena hal yang kecil pun tak jarang kami bertengkar. Tanpa alasan yang mendasar sering kali saya memperuncing permasalahan yang kami hadapi, hingga berlarut-larut yang seolah tiada berujung. Entah bagaimana mesti menjelaskannya: mungkin karena beban pikiran yang berat lah yang membuat kami acap kali mengedepankan emosi.
Ya, kami memang sudah tidak lagi terikat dalam sebuah pertalian asmara.
Pada saat "hubungan" kami berakhir, saat itu juga saya berpikir bahwa segala urusan di antara kami berdua juga akan mengalami hal yang serupa. Namun ternyata banyak hal yang tidak lah cukup sederhana untuk dapat dipahami semudah yang saya inginkan. Berakhirnya "hubungan" itu ternyata justru menjadi awal dari beberapa pertentangan di antara kami berdua. Tak jarang kami bertengkar hanya karena hal yang kecil. Beberapa pertentangan pendapat tak dapat terelakkan hanya karena salah pengertian di antara kami berdua.
Saya pun merasa amat kesal. Rasa amarah yang mendalam lagi tak tertahankan pun akhirnya berkecamuk dalam hati saya. Pada saat yang bersamaan saya juga merasakan sebuah kesedihan yang cukup besar. Sebenarnya yang saya inginkan hanyalah kami bisa tetap bersahabat tanpa harus saling beradu argumen dalam balutan emosi yang memuncak. Yang saya inginkan hanyalah kami bisa menjaga silaturahmi yang sempat memudar hanya karena berakhirnya tali asmara kami. Yang saya inginkan hanya lah kami dapat tetap bersapa dan bertutur dalam tawa dan canda seperti dulu... jauh sebelum kami memutuskan untuk "jadian".
Namun sungguh berat rasanya untuk bisa mencapai itu semua. Mengembalikan keindahan persahabatan kami ternyata tidak lah semudah membalikkan telapak tangan. Apa lagi dengan adanya kejadian berakhirnya status "berpacaran" kami. But the world goes on while we indulge ourselves in sadness. Memang tidak lah mudah... Kemudian saya berpikir bahwa hal ini tak boleh dibiarkan terus berlanjut. Saya tak ingin kami berdua terus menerus menyimpan amarah. Saya tak ingin kami berdua terus diliputi emosi setiap kali bertutur sapa. Bagaimana pun juga hubungan baik harus tetap dibina. Saya pun kemudian memutuskan untuk membicarakan hal ini dengannya.
Beberapa malam yang lalu kami duduk berdua mendiskusikan apa yang selama ini kami alami. Tentang apa saja yang terjadi setelah kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan "pacaran" itu. Tentang apa saja yang kami rasakan... dan tentunya juga tentang apa yang kami harapkan.

Memang benar. Segala sesuatu yang dibicarakan dalam hati tenang akan mudah mencapai tujuannya. Saya melihat ke belakang: pada saat-saat di mana kami mengedepankan emosi dalam berbagai pembicaraan kami. Sulit sekali untuk bisa membuat pasangan memahami dan mempercayai akan apa yang kita sampaikan. Saya menemukan bahwa pada saat kami membuka hati hambatan yang berat sekali pun rasanya bisa kita lalui.
Mata hati pun terbuka. Kami berusaha untuk melihat, memahami dan merasakan satu sama lain. Tentunya dalam hati yang tenang, bukannya dalam emosi seperti apa yang berlangsung sebelumnya. Dan dengan hati yang terbuka lah kami berusaha menyelesaikan segala pertentangan dan amarah yang kami alami selama ini.
Ya, kami memang sudah tidak lagi terikat dalam sebuah pertalian asmara...
Jika anda perhatikan salah satu posting saya, tentunya kini terjawab sudah pertanyaan akan kisah mana yang sebenarnya saya maksudkan di posting ini. Dan pula bagaimana kelanjutan kisah asmara tersebut. Memang bukan lah kejadian "kemarin malam", bukan pula "minggu lalu". Kalau boleh dibilang mungkin memang sudah cukup lama. Sekitar pertengahan Oktober lalu tepatnya. Sengaja tidak langsung menuliskannya karena pada saat itu saya tengah diliputi emosi yang mendalam. Dan kini dengan hati yang terbuka baru lah saya memberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang terjadi dan apa yang saya rasakan.
Ya, pertalian asmara itu memang telah berakhir...
Seperti yang pernah Nauval sampaikan kepada saya: "no break-up is easy"; kiranya memang ini bukan lah hal yang bisa kami anggap enteng semata. I came to one point where I find out that we can't get to our object of affection. It's like our affectionate feeling gets stuck at a point (and simply not going anywhere).
Rasanya tidak lah adil untuk melimpahkan semua kesalahan ini padanya. Saya merasa bahwa kami berdua turut berperan dalam berakhirnya pertalian tersebut. Kami berdua telah mencoba untuk menjalani sebaik-baiknya; namun apa daya ternyata usaha tersebut tidak lah membuahkan hasil. Berat baginya untuk menjalani hubungan ini, sementara itu ekspektasi saya berjalan menuju arah yang tiada bertemu dengan keinginannya.
Saya dapat pastikan bahwa ini bukan lah disebabkan oleh kehadiran orang ketiga. Bukan pula karena jarak yang begitu jauh memisahkan kami berdua. From this lesson I've learned that different people carry different kind of love, and care. Kami berdua paham benar bahwa kami masih saling menyayangi. Namun sayangnya ekspektasi dari masing-masing individu tidak dapat terpenuhi: then the crash is simply unavoidable.
Pembelajaran kami untuk bisa saling mengendalikan diri memang masih harus menempuh perjalanan yang panjang. Di sini lah kami belajar untuk bersikap jujur; tidak hanya terhadap pasangan tapi juga terhadap diri sendiri. Di sini lah pula kami belajar untuk bisa bersikap arif dan bijaksana dalam memahami pasangan dan juga diri sendiri. And from this time forward: kami akan menjalani persahabatan dan menjaga tali silaturahmi ini sebaik-baiknya. Insya Allah.
Semoga tulisan saya kali ini mampu memberikan inspirasi bagi anda untuk selalu dapat membuka hati terhadap semua hal. Betapa baik maupun buruknya hal yang disampaikan di sini; saya berharap posting kali ini dapat memperkaya khasanah kehidupan keseharian anda. Hope this finds you all well and have a hardrocking weekend, minna-san :-)
groetjes,
dodY xxxx
PS: to Nauval, thanks for those tremendously priceless supports of yours. Kamu benar-benar sudah banyak membantu saya. Berat rasanya bagi saya untuk bisa melalui ini semua tanpa dukungan dari kamu. Thank you for simply being there for me.
to Nizar, terima kasih untuk tetap bertahan menemani saya; bahkan di masa-masa sulit sekali pun. Pokok'e kita berdua harus tetep berjuang ya, Ta! Eh... eh... dapet salam tuh dari (mantan) calon Bu Mentri! [hehehe, yang tau cuma kita berdua, yah]. Ada yang sampe kebawa mimpi segala, lho! Sampe sekarang tetap berharap: kalau pun ngga kesampaian jadi Bu Mentri... yaaahhh... paling ngga sempet ngerasain jadi Bu Rektor lah (istrinya rektor; gituh maksudnya)! Tapi kalau itu pun ngga dapet juga; maka target minimal yang harus dicapai adalah Bu Dekan! Bayangin aja... tuh orang udah mencak-mencak tiap hari. Masa punya suami pejabat segitu aja ngga "dapet jatah" untuk bisa jadi Dekan, yah?
Abis gimana ngga kebelet ngejar posisi itu... tunjangan jabatan dan tunjangan fungsional-nya lumayan lho! Paling ngga cukup buat acara jalan-jalan ke Eropa, 'kan? Jadi, ngga perlu lagi pake alasan "kunjungan kerja" atau "conference" kalo memang ke sana buat acara shopping. Duuuhh, ngerasa ngga siy... conference/training-nya berapa hari... jalan-jalannya berapa hari, gituh? Huauahaahauhua.... *tertawa berguling-guling* ... *LOL* :-)
buat yang masih penasaran: posting satu garis tipis sama sekali ngga ada hubungannya ama yang satu ini. jauh banget kali yah :-p secara juga orang-orangnya beda gitu loh! jadi ngga usah nyebarin gosip dan spekulasi yang ngga-ngga deh :-)
ya... gw emang balik single lagi. tapi secara sekarang udah ada yg lagi lengket ma gw... buat yang mo deket'in gw... tunggu dulu ya... sabar... kalo anda memang beruntung maka anda bisa dapetin saya... *berasa sok selebritis* heuheuhee *LOL*
selengkapnya/read more...
posted by dodY @ 9:02 PM
|
 |
 |
 |
|
|
 |
| Thursday, December 22, 2005 |
 |
|
selamat hari ibu

Kasih seorang ibu kepada anaknya tak akan mampu ditandingi oleh apa pun. Cinta seorang bunda kepada buah hatinya tiada batas dan tiada akhir. Tiada mungkin bagi saya untuk dapat membalas betapa besar kasih, sayang dan cinta beliau kepada saya. Pada hari yang istimewa ini semoga sepucuk tanda ucapan rasa syukur ini mampu membawakan pesan cinta saya kepadanya.
Happy Mother's Day. I love you, Mom. Thanks for being the sunshine of my life
Semoga hari spesial ini mampu memberikan inspirasi bagi anda semua untuk mengucapkan rasa terima kasih dan memberikan cinta kepada ibu anda masing-masing. Dan semoga, rasa syukur dan cinta itu tidak hanya untuk hari ini saja... tapi pada setiap hari dalam kehidupan anda.
Hope this finds you (and your mom) well. Have a great Mother's Day, minna-san.
groetjes,
dodY xxxx
selengkapnya/read more...
posted by dodY @ 8:54 PM
|
 |
 |
 |
|
|
 |
| Friday, December 16, 2005 |
 |
|
Dukung MB UGM dalam Grand Prix Marching Band 2005
OK... listen up, people! This is very important! Demi menyelamatkan dunia dari kelesuan yang mendalam pada penghujung minggu: dengan segala kerendahan hati saya memohon anda semua untuk mengosongkan agenda akhir pekan kali ini. Terutama bagi anda yang tinggal di wilayah Jakarta dan sekitarnya (buat yang di luar Jakarta kalo mo bela-belain dateng juga ngga papa, hehehe). Mari berbondong-bondong menuju Gelora Bung Karno di Senayan untuk menyaksikan salah satu atraksi terbesar tahun ini: Grand Prix Marching Band 2005.
Grand Prix Marching Band (GPMB) yang pertama dilaksanakan di Jakarta pada tahun 1982. Dalam perjalanannya hingga saat ini telah banyak perkembangan yang cukup berarti hingga penyelenggaraanya mendapat sambutan baik dari masyarakat. Tak kurang dua puluh satu peserta dari kategori umum dan sekolah datang dan berkompetisi di ajang ini. Tidak terbatas hanya dari wilayah Jabotabek, cukup banyak peserta datang dari berbagai penjuru tanah air. Tahun ini menandai penyelenggaraan Grand Prix Marching Band yang kedua-puluh-satu. Sungguh bukan lah suatu perjalanan yang singkat. Sepak terjang event ini dalam memajukan dunia marching band di tanah air tidak bisa dipandang sebelah mata begitu saja. Semoga kali ini kontribusi yang diberikan olehnya mampu memajukan dunia marching band menuju ke arah yang lebih baik dan tentunya membentuk generasi muda yang tangguh dan unggul bagi bangsa Indonesia (duh, pidatonya udah kayak Presiden SBY belum siy? hehehe).
Kalau ditanya mengapa kali ini saya menuliskan dan menggalang dukungan bagi UGM dan bukannya Univ. Airlangga yang merupakan alma mater saya yang tercinta... kiranya jawabannya sangatlah sederhana! Ya ampun.... secara kampus gw ngga punya marching band gitu loh, hehehe. Kasian banget ngga siy?. Bukannya tidak cinta terhadap alma mater sendiri, namun memang karena kegiatan semacam ini (baca: marching band) kurang mendapat tempat di hati Pak Rektor. Kampus gw duitnya seret, lain dengan UGM yang jor-joran ngeluarin duit. Lho, ini kok jadi buka aib kampus sendiri siy? *jedor-jedorin kepala sendiri ke tembok*, hahaha! Lagi pula: ini semua demi mendukung "si adek" yang kali ini ikut berlaga di ajang kompetisi tersebut. Siapa sih sebenarnya dia? Ehhheem... eehheemm... *terbatuk-batuk*, hehehe... ngga penting deh! Ntar-ntar aja ceritanya kalo soal itu *winks* Yang penting 'kan ayo rame-rame nonton Grand Prix Marching Band :-)
Sekilas tentang Marching Band UGM Marching Band Universitas Gadjah Mada merupakan salah satu unit kegiatan Mahasiswa (UKM) bidang seni di UGM yang berdiri sejak tahun 1979, meski sejak awal 70an kegiatan drum band di UGM sendiri sebenarnya telah ada. Pada 11 Maret 1979, Drum Band UGM yang diketuai oleh Subandrio dan di bawah pembinaan Ir. Arya Ronald, mulai melakukan penataan terhadap struktur organisasi. Tanggal itu ditetapkan sebagai hari berdirinya Drum Band Universitas Gadjah Mada (DB UGM). Unit ini bertujuan untuk ikut aktif melaksanakan Tri Dharma perguruan tinggi, serta mempererat kekeluargaan dan membina rasa cinta almamater.
Dalam masa pembinaan Isharyanto, S.H., muncul suatu prestasi yang cukup membanggakan ketika mengikuti Grand Prix Marching Band (GPMB) I di Jakarta pada tahun 1982. Dalam perkembangan selanjutnya, unit ini pun menamakan diri "Marching Band UGM" (MB UGM). Perubahan ini disesuaikan dengan dinamika kegiatan yang memadukan unsur baris berbaris dan seni musik, di mana unsur brass menjadi semakin dominan.
Berbagai prestasi membanggkan berhasil ditorehkan MB UGM. Pada ajang Grand Prix Marching Band (GPMB) ke-17 (2001) di Jakarta, MB UGM tampil sebagai Band Terbaik III Babak Penyisihan, Field Commander Terbaik II, Solo Percussion Terbaik I, Duet Horn Terbaik I, Solo Horn Terbaik II, dan juga sebagai Band Terbaik V Divisi Sekolah. Di luar arena kompetisi GPMB, MB UGM juga berhasil mengukir prestasi sebagai Colour Guard Terbaik keenam pada kejuaraan Guard Contest Hamengku Buwono Cup (2003) di Yogyakarta.
MB UGM Menuju GPMB 2005 Ajang kompetisi GPMB menempati posisi penting dalam pengembangan prestasi MB UGM. Segala persiapan dilaksanakan dengan serius. Latihan secara intensif telah dipersiapkan berbulan-bulan sebelumnya. Dalam disiplin yang tinggi, setiap anggota ditempa untuk dapat memberikan yang terbaik. Tidak hanya latihan rutin di wilayah kampus, MB UGM juga melewati proses karantina di wilayah Akademi Militer (AkMil) di Magelang, Jawa Tengah demi persiapan yang lebih matang.
Karantina MB UGM berlangsung lima hari dari 7 hingga 11 Desember 2005 di GOR Soeroto, AKMIL Magelang. Hal ini merupakan proses latihan terakhir MB UGM sebelum berangkat menuju arena pertempuran GPMB 2005. Seluruh materi dan konsep pagelaran telah berhasil dituntaskan selama lima hari tersebut, dan untuk menguji hasilnya MB UGM melakukan dua buah penampilan.
Penampilan pertama berlangsung di outdoor dalam acara Genderang Lokananta yang diselenggarakan pihak AKMIL. Acara ini disaksikan oleh seluruh komponen dan pejabat-pejabat tinggi di AKMIL serta masyarakat umum. Sementara penampilan kedua merupakan konser pamit yang disaksikan oleh para alumni dan orang tua player dan diselenggarakan untuk menutup prosesi latihan selama lima hari.
Tim MB UGM berangkat menuju Jakarta dari Gelanggang Mahasiswa UGM, Bulaksumur, Jogja pada 13 Desember 2005 Pukul 00.00 (dini hari). Prosesi Keberangkatan diawali dengan Apel dan Checking serta Acara Pelepasan yang direncanakan akan dilepas langsung oleh Wakil Rektor Kemahasiswaan UGM, Dr. Chairil Anwar. Tim MB UGM berangkat dengan menggunakan dua buah bus dan sebuah truk. Dijadwalkan tiba di Jakarta pada 14 Desember 2005 untuk kemudian menginap di Pusdiklat Pajak di wilayah Slipi. Proses latihan selama di Jakarta akan dilaksanakan di GOR Pertamina di wilayah Simprug.
Europe... Journey to the Highland Setelah sukses dengan Asia... Sound, Shape, n Color dalam Grand Prix Marching Band XX tahun 2004 lalu, kini Marching Band Universitas Gadjah Mada Yogyakarta akan kembali menggoyang Istora Gelora Bung Karno. Masih dalam rangka mengelilingi dunia, dalam penampilan kali ini Marching Band UGM mengusung tema Europe... Journey To The Highland. Sebuah persembahan yang menampilkan karakteristik lokal dari dataran tinggi Eropa.
Lagu-lagu yang akan dibawakan antara lain: Toss the Feature (dipopulerkan the Corrs), Eiffel I'm in Love, Carnaval the Paris, Malaguena dan Tocatta d' Feague. Dalam ajang kompetisi ini MB UGM dipimpin oleh tim pelatih dengan komposisi Band Director dan Horn Line oleh M. Rachmat Mulia, Battery Percussion oleh Dian Listyadi, Colour Guard oleh Yudi, Pits Instrument oleh Yoga dan Drill Design oleh Zarkhasi Arman Mberu.
Credit: diambil dari tulisan dari M. Zuhdan Fathoni pada situs Trendmarching.
GPMB: Events and Contact Details Acara puncak Grand Prix Marching Band XXI kali ini berlangsung pada hari Sabtu dan Minggu, 17 - 18 Desember 2005 di Gelora Bung Karno, Senayan. Hari pertama diawali dengan Upacara Pembukaan GPMB XXI-2005 pada pukul 09.00 WIB. Selanjutnya akan dilaksanakan Babak Penyisihan Divisi Sekolah dan Divisi Umum yang diikuti dengan pengumuman peserta yang maju ke babak final pada masing-masing divisi (diperkirakan pada pukul 19.30 WIB). Hari terakhir ajang kompetisi ini (18 Desember 2005) akan diisi dengan pelaksanaan Babak Final dari Divisi Sekolah dan Divisi Umum (mulai pukul 10.00 WIB) yang dilanjutkan dengan Pengumuman Pemenang dan diakhiri dengan dengan Upacara Penutupan GPMB XXI-2005 (diperkirakan pukul 18.30 WIB) yang menandai selesainya rangkaian acara tersebut.
Terdapat 17 (tujuh belas) anggota dewan juri dalam ajang kompetisi ini. Dengan diketuai oleh Iwan Christanto (Jakarta) dan wakilnya Benny Prasetyo (Bandung) bersama 15 anggota lainnya, dewan juri akan menilai seluruh tim yang berlaga dalam beberapa kategori (bidang) penilaian; antara lain: marching & maneuvering; display & showmanship; ma-horn line; solo & duet horn; ma-horn line, solo horn, FC; ma-percussion line, solo perc; general effect; colour guard; dan busana.
Ajang kompetisi GPMB 2005 kali ini diikuti oleh 21 peserta yang terbagi dalam dua divisi. Pada Divisi Sekolah diikuti oleh: 1. Ki Barak Panji Sakti Singaraja, Bali 2. Bhumi Pura Wira Wibhawa Depok, Jabar 3. Listya Dwijaswara Cirebon, Jabar 4. Korps Putri Tarakanita, Jakarta 5. Corps Putri Darunnajah, Jakarta 6. Bahana Cendana Kartika Duri, Riau.
Sedangkan pada Divisi Umum diikuti oleh: 1. Gema Nada Darussalam Gontor, Jatim 2. Saka Bhayangkara Makassar, Sulsel 3. Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta 4. Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta 5. Gita Wibawa Pradja Tangerang, Banten 6. Bulldozer, Jakarta 7. Top d&bc "Blast" Batu, Jatim 8. Gema Citra Telkom Indonesia Balikpapan, Kaltim 9. Gita Shandy Putra PT. Telkom Langsa, Nangroe Aceh Darussalam 10. Semen Padang, Sumbar 11. Gema Wibawa Mukti Bandung, Jabar 12. Angkasa Pura II Tangerang, Banten 13. Gita Teladan, Jakarta 14. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 15. Madah Bahana UI Depok, Jabar.
Sesuai jadual yang terlah disusun panitia, pada babak penyisihan (17-Des) Tim MB UGM akan tampil pada urutan ke-20 pada pukul 17.50 - 18.10 WIB.
Tiket dapat diperoleh di lokasi. Untuk Babak Penyisihan, harga tiket sebagai berikut: Tribun Kehormatan: Rp 100.000 Tribun Timur VVIP A1-B1-B5: Rp 50.000 Tribun Timur VIP A2-A9: Rp 35.000 Tribun Utara & Selatan A3-A8: Rp 10.000 Tribun Barat B2-B3-B4: Rp 5.000
Untuk Babak Final, tiket dijual dengan harga sebagai berikut: Tribun Kehormatan: Rp 150.000 Tribun Timur VVIP A1-B1-B5: Rp 65.000 Tribun Timur VIP A2-A9: Rp 40.000 Tribun Utara & Selatan A3-A8: Rp 15.000 Tribun Barat B2-B3-B4: Rp 10.000
Ngga mahal 'kaaaaaaaaaan.... so, pada dateng semua yah, hehehhe :-) Untuk keterangan lebih lanjut silakan hubungi panitia GPMB 2005 di nomor telepon 021-7291284 atau fax 021-7243943.
To AP: Ganbatte ne! Viva UGM!!! Viva UGM!!! Viva UGM!!! :-) Ayo.. berjuang yang keras yah! Ngga rugi deh, latihan kerasa dibela-belain sampe tengah malam, sampe badan pada pegel dan sakit semua, hehe. Cari duit sponsor dan ngurusin nota pembayaran sampe ratusan jeti gituh! Wheleeeeh... ngelu tenan, tho?! Ayo... ayoo.. ayoo... berjuang lah! Kamu pasti bisa! Maaf ngga bisa datang ke Jakarta. Cuma bisa bantu doa dari sini. Makanya ini menggalang dukungan buat tim kamu supaya temen-temen di Jakarta bisa kasih support.
Semoga semangat dan perjuangan "a la" marching band kali ini mampu memberikan inspirasi tersendiri bagi keceriaan anda semua. Hope this finds you well dan jangan lupa datang dan saksikan Grand Prix Marching Band 2005 di Senayan pada akhir pekan ini.
groetjes,
dodY xxxx
Referensi dan kredit foto: Situs Trendmarching. Situs Resmi Grand Prix Marching Band. Situs Resmi Marching Band UGM. Situs Indomarching.
PS: dek, buruan pulang yah! kangen banget niy! i love you!
selengkapnya/read more...
posted by dodY @ 3:27 PM
|
 |
 |
 |
|
|
 |
| Thursday, December 08, 2005 |
 |
|
Satu Garis Tipis
Berapa jarak yang memisahkan Jakarta dengan London? Berapa jarak yang memisahkan tawa dengan tangis? Bagaimana membedakan gaya hidup di Paris dengan Tokyo? Lalu, berapakah jarak yang memisahkan antara cinta dan kebencian? Adakah batasan akan sesuatu yang amat berbeda tiba-tiba menjadi begitu kabur hingga kita kerap kali sulit membedakannya? In a world full of cynicism, it is really hard to tell the difference between love and hate.
Rasanya aneh sekali. Dia yang dulunya adalah cinta terbesar dalam hidup saya sontak berubah menjadi seorang musuh yang amat saya benci setelah pertalian asmara itu terputuskan. Dulu saya memanggilnya dengan sebutan "sayang", kini rasanya begitu berat hati untuk tetap merujuk dirinya dengan sebutan itu. Kala seorang teman menanyakan kabarnya, saya pun hanya bisa menjawab dengan penuh sinisme: "Oh, maksud kamu kabar "Si Brengsek" itu? Mana aku tahu? Aku pun sudah tak lagi peduli dengannya!". Kalau pun kita bertemu segalanya tak bisa kembali seperti dulu lagi. Orang yang tak tahu apa-apa pun bisa merasakan betapa angkara sedang meliputi kami berdua.
Dalam hal berbicara pun kami menganut prinsip "hemat berucap" alias ngga bakal ngomong kalo ngga ditanya dan kalo ada perlunya. Sulit sekali untuk menemukan saat-saat di mana kami bisa berbincang dengan santai. Yang ada hanya lah nada bicara yang tinggi penuh dengan amarah. Tak heran emosi begitu mudah terlecut dalam setiap pembicaraan kami. Aneh ya? Padahal dahulu kami saling mencintai... saling merindu... saling mengasihi satu sama lain. Dia lah dulu yang setiap malam saya telpon hanya untuk sekedar mengucapkan "Selamat malam, Sayang. Aku cinta kamu". Tidak kah aneh? Cinta dan kebencian ternyata hanya dipisahkan oleh satu garis tipis? Perih sekali: finding out your biggest love turns out to be your worst enemy.
Jika anda berpikir hal itu hanya berjalan satu arah maka rasanya anda keliru. Boleh jadi apa yang saya alami berotasi dengan cepat hingga banyak kejadian pun berlangsung dengan berbalik arah. Sempat saya berkenalan dengan salah seorang sahabat baru. Tawa dan candanya yang begitu "hidup" mampu mengisi keindahan dalam keseharian saya. Namun karena satu kejadian yang menyakitkan segalanya pun berubah. Sebuah konflik antaranya dengan salah satu sahabat lain kiranya turut berimbas pada kehidupan saya. Sempat pula terlontar kata-kata yang tak sedap darinya kala itu. Kontan saya pun membencinya. Segala sesuatu pembicaraan tentang dirinya pasti akan saya hindari. Sebutan "Si Brengsek" pun dengan mudah melekat pada dirinya (tentunya atas pemberian dari saya).
Ingin rasanya menangis. Andai saja saya bisa memutar waktu: ingin hati menghapus kehadiran dirinya dalam hidup saya. Sungguh saya tak menyangka dia sanggup menyakiti hati saya (dan sahabat saya) hingga perih itu tetap membekas. Sedaya upaya saya berusaha melupakan dan mengacuhkan dia. SMS dari dia pun tak lagi saya gubris. Sapaan darinya di dunia maya pun saya anggap sekedar angin lalu. Saya merasa menjadi manusia yang amat kejam. Oh, maafkan lah saya, namun hati ini sungguh tersakiti olehnya. Sulit bagi saya untuk begitu saja bisa menerimanya kembali seperti dulu.
Lalu datang lah momen hari raya. Saya pun mencoba (meski itu berat adanya) untuk membuka pintu hati saya dalam memberikan maaf kepada mereka yang telah meninggalkan perih di hati ini. Mungkin ada benarnya akan apa yang pernah disampaikan oleh bapak yang satu ini dalam salah satu komentarnya pada posting saya yang terdahulu: forgiveness prevails. Sedikit demi sedikit hati saya pun terketuk untuk kembali menerima kehadirannya dalam hidup saya. Sapanya yang penuh goda melalui dunia maya kembali mengisi keceriaan dalam keseharian saya. Dari apa yang selama ini tak diinginkan kini saya justru menantikan kehadirannya. Rasa suka padanya yang dulu pernah tumbuh (namun sempat terbunuh sesaat) kini pun bersemi kembali.
All those midnight calls... oh, betapa kini saya merindunya. Believe it or not: rasanya saya kembali jatuh cinta kepadanya. Namun tunggu dulu! Semuanya ternyata tidak hanya berhenti sampai di sini. Dia pun akhirnya mengakui betapa dulu dia menyayangi saya di kala kami saling bertemu dalam beberapa kesempatan. *Gubrak* ... *Pingsan* ... Kenapa tidak dari dulu saya menyadari hal ini? Bodoh nian, bukan? *LOL*
Memang keadaan kini tak lagi sama dengan dahulu ketika pertama kali kami saling mengenal. Kalau sudah begini haruskah saya menyalahkan dirinya? Atau menyalahkan diri sendiri? Darinya sempat terucap: "Seandainya saja dulu kita bisa bertemu dalam situasi yang berbeda (tanpa diliputi dengan rasa benci dan amarah)". Kini saat rasa sayang itu hadir kembali dalam diri saya... akan kah cinta yang kini saya rasakan dapat terjalin dengannya? Bingung pula saya mencari jawabnya. Mungkin ada baiknya membiarkan sang waktu untuk menjawab semua pertanyaan itu.
Tidak kah ini sungguh aneh? Dia yang dulunya amat saya benci kini berbalik menjadi yang amat saya cinta. Ada kah tiba-tiba dunia berputar terlalu cepat hingga segala sesuatunya berjalan berbalik arah? Memang benar: cinta dan kebencian hanya dipisahkan oleh satu buah garis yang amat tipis. Tanpa disadari, mungkin begitu juga lah adanya dengan berbagai hal yang selama ini kita anggap saling bertolak belakang. Ada kah sesuatu yang selama ini kita sebut dengan "perbedaan fundamental" benar-benar eksis? Rasanya ini pun tidak lah mudah untuk dijawab begitu saja, bukan?
Apa pun itu... setidaknya saya sudah berusaha untuk membuka hati saya. Ya... forgiveness prevails! Meski itu belum sepenuhnya demikian... Maklum saja, perih yang membekas di hati saya ternyata membutuhkan cukup banyak waktu untuk bisa tersembuhkan.
Tiba-tiba saya pun terbangun dan tersadarkan diri:
I'm being cynical and I live in a world full of cynicism...
Saya memberikan kebebasan sepenuhnya bagi anda untuk memetik makna dan inspirasi dari pengalaman ini. Tak peduli betapa baik dan buruknya itu, saya berharap kesemuanya mampu memperkaya khasanah kehidupan anda semua. May this posting finds you all well. Have a hardrocking week, minna-san.
selengkapnya/read more...
posted by dodY @ 8:51 PM
|
 |
 |
 |
|
|
|
|
|